跳到正文
GameBrott· Muhammad Faisal·· 4 小时前AI 评分12

《Silent Hill f》与《Fatal Frame II: Crimson Butterfly 重制》制作人解析日本恐怖游戏聚焦女性角色原因

Game Horror Jepang Sering Fokus ke Karakter Wanita, Ternyata Ini Alasannya!

AI 导读

《Silent Hill f》与《Fatal Frame II: Crimson Butterfly 重制》制作人解释日本恐怖游戏常聚焦女性角色,源于时代设定与父权社会女性复仇传统。

正文

Game horror Jepang pasti selalu identik dengan hal-hal mistis yang tidak lepas dari berbagai macam mitos ataupun mitologi dari Negeri Sakura tersebut. Apalagi kita sering melihat game ber-genre horror asal Jepang sering menghadirkan fokus cerita ke karakter wanita, baik itu Protagonist maupun hantu yang memiliki rasa balas dendam yang kuat.

Ternyata ada alasan tersendiri kenapa developer Jepang sering membuat game horror mereka seperti itu. Apa alasannya, ya?

Game Horror Jepang
Kira-kira apa alasannya, ya?

Dalam interview eksklusif Dengeki Online bersama dengan Motoi Okamoto (Producer Silent Hill Series) dan Makoto Shibata (Creator Fatal Frame Series) dalam rangka merayakan kolaborasi antara Silent Hill f dan Fatal Frame II: Crimson Butterfly Remake.

Ada banyak pertanyaan dan informasi menarik diungkap oleh mereka, terlebih soal ciri khas bagaimana game horror Jepang sering berfokus pada karakter wanita. Hal ini berkaitan dengan penggunaan setting zaman yang dihadirkan pada game, seperti contohnya game yang mereka buat mengambil zaman Showa (1926-1989).

Setting Cerita, Mitologi, dan Sejarah Lokal

Game Horror Jepang
Developer Jepang mengambil setting cerita, mitologi, dan sejarah lokal yang terjadi di tempat asal mereka

Makoto Shibata menjelaskan bagaimana game Fatal Frame II: Crimson Butterfly Remake sengaja mengambil setting cerita sekitar tahun 1980-an di saat sebelum adanya ponsel.

Shibata berpendapat dari sudut pandang orang modern, dia merasa mengambil latar game-nya sebelum era ponsel memiliki kemiripan dengan horror bertemakan gothic. Maksud dia adalah kisah horror Jepang yang memanfaatkan suasana masa lampau, tradisi, dan juga lingkungan yang memiliki aura misterius.

Sementara itu Motoi Okamoto menjelaskan game Silent Hill f mengambil setting cerita sekitar tahun 1960-an dimana kepercayaan terhadap hal-hal ghaib, legenda supernatural, dan cerita rakyat masih menjadi bagian penting di kehidupan masyarakat.

Dia juga menjelaskan bagaimana Penulis Cerita Silent Hill f, yaitu Ryukishi07 mengusulkan tema utama cerita game tersebut berfokus pada tradisi pernikahan dari sudut pandang wanita di Jepang pada zaman itu. Pada awalnya Okamoto terkejut dengan ide seperti itu, namun dia melihat potensi penggunaan latar masa lalu ketika pernikahan yang diatur oleh keluarga pada saat itu masih umum dilakukan di Jepang.

Apalagi pada periode zaman itu bertepatan dengan berkembangnya sebuah gerakan untuk memperjuangkan hak-hak sosial perempuan di Jepang. Menurut Okamoto, kondisi masyarakat yang sedang mengalami perubahan tersebut digagaskan oleh Ryukishi07 sesuai dengan tema cerita dari Silent Hill f.

Game Horror Jepang
Penggunaan karakter wanita di game horror Jepang menjadi elemen yang kuat dan berkaitan dengan apa yang terjadi di negeri tersebut

Motoi Okamoto dan Makoto Shibata menjelaskan salah satu poin utama mereka menghadirkan setting cerita seperti itu adalah membahas hubungan penindasan terhadap perempuan dan kemunculan hantu pendendam yang mengalami penindasan sebelum mati.

Shibata menjelaskan meskipun secara fisik terlihat lemah, tapi mereka (hantu perempuan) memiliki semacam kekuatan supernatural yang membuatnya terasa mengerikan.

Okamoto menambahkan tradisi cerita horror Jepang yang menggambarkan pembungkaman terhadap perempuan yang dirugikan dalam masyarakat dimana pada saat itu didominasi laki-laki. Menurutnya perempuan yang telah menjadi hantu memiliki kekuatan balas dendam yang kuat setelah mereka mati.

Makoto Shibata mengatakan game Fatal Frame mengharuskan Player mempelajari kisah para hantu tersebut, memahami latar belakang, dan mendekati mereka sebelum akhirnya bisa menenangkan para arwah penuh balas dendam tersebut. Jadi cara pendekatan seperti itu berbeda dari hanya sekadar mengalahkan musuh secara fisik saja.

Hal seperti ini tidak bisa dilakukan ketika memiliki Protagonist utama laki-laki karena berpotensi mengarahkan game dalam menaklukkan atau mengalahkan hantu tersebut. Karena itulah Fatal Frame terus konsisten menggunakan Protagonist utamanya seorang perempuan yang sering menghadapi situasi serupa dengan para hantu yang mereka temui.

Sementara itu Motoi Okamoto menyinggung soal Yotsuya Kaidan dimana salah satu cerita hantu paling terkenal di Jepang menghadirkan karakter Oiwa sebagai sosok perempuan yang mengalami ketidakadilan. Menurutnya cerita tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana penderitaan dan kebencian seseorang bisa terus bertahan, bahkan setelah kematian.

Oleh karena itu, Okamoto berpendapat gagasan tentang kekuatan balas dendam perempuan yang dibungkam dalam masyarakat patriarkal merupakan bagian dari tradisi horror di Jepang.

Itulah informasi mengenai alasan game horror Jepang sering berfokus pada karakter wanita menurut sudut pandang developer Silent Hill dan Fatal Frame. Bagaimana menurut kalian dengan informasi ini?


Baca juga informasi menarik Gamebrott lainnya terkait Horror atau artikel lainnya dari Muhammad Faisal. For further information and other inquiries, you can contact us via author@gamebrott.com.

来源:GameBrott · gamebrott.com